Simple Prima

Resolusi : Upgrade Skill & Knowledge


Akhir tahun sudah makin dekat. Apa kabar resolusimu tahun depan? Sudah clear kah, mau jadi apa tahun depan?

Ngomongin soal resolusi, adakah self improvement jadi bagian dari resolusimu tahun depan? Misalnya, tahun depan mau menguasai skill baru (misal: desain grafis, copywriting, video editing, dll.).

Upgrade diri itu penting lho, apalagi di tengah situasi pandemi yang...ya you know, serba unpredictable kaya gini. 

Buat kamu yang sedang mempertimbangkan untuk belajar hal baru tahun depan, berbayar atau pun tidak, saya mau share beberapa poin yang mungkin bisa kamu jadikan pertimbangan sebelum memutuskan mau belajar apa tahun depan. At least sebagai pertimbangan buat nyusun skala prioritasmu.

Apa yang saya bagikan di sini, berdasarkan pengalaman saya saat bekerja sebagai HRD di bagian training & development

Namun, jangan telan mentah-mentah ya, karena belum tentu apa yang jalan di tempat saya, bisa kamu terapkan buat kamu pribadi.

Urgensi
Training & development di sebuah perusahaan itu adalah investasi. Perusahaan menginvestasikan sejumlah sumber dayanya (uang, waktu) untuk meng-upgrade karyawan, dengan harapan si karyawan nantinya menggunakan keterampilan dan/atau pengetahuan barunya untuk kemaslahatan si perusahaan sebagai investor.

Jadi orientasinya bisnis. Keluar duit berapa, balik berapa duit.

Sama halnya dengan kamu. Apa pun program self development yang mau kamu ambil, ada baiknya kamu juga menganggap hal itu sebagai investasi untuk dirimu.

Dan namanya investasi, kamu perlu mempertimbangkan how much the cost & how much you will gain

Kenapa urgensi ini penting? Simply put, modal kita (uang, waktu, tenaga, pikiran, dll.) terbatas. Jadi kita perlu bijak memilih program self improvement yang betul-betul urgent. 

Tingkat urgensinya bisa kamu sesuaikan dengan resolusimu. Kalau resolusimu ingin memulai bisnis kuliner, maka self improvement apa yang perlu kamu kuasai, berkaca dari kondisimu saat ini?

Kalau kamu nggak bisa masak, belajar masak akan lebih relevan daripada belajar desain/marketing. Namun, kalau kamu udah jago masak, tapi nggak tau caranya jualan, belajarlah jualan.

Intinya, kamu perlu menentukan mana yang paling urgent untuk kamu pelajari agar kamu bisa merealisasikan resolusimu. Dan, karena training itu adalah investasi, jadi kamu perlu bijak menentukan mau investasi di area mana.

Jangan buru-buru tergiur iklan dan promosi pelatihan. Sesuaikan dengan tujuanmu dan kondisimu saat ini.

Hasil Yang Diharapkan
Setelah kamu menentukan area yang urgent untuk di-improve. Berikutnya tentukan apa yang mau kamu pelajari.

Misal nih, belajar marketing. Marketing itu kan luas banget disiplin ilmunya, nah yang mau kamu pelajari dari marketing ini apanya? Apakah branding, desain, strategi marketing, atau cara jualan di marketplace.

Jadi, apa spesifiknya yang mau kamu pelajari?

Metode
Udah tahu apa yang perlu dipelajari dan apa yang mau dipelajari spesifiknya. Next thing yaitu menentukan metode pembelajarannya.

Apakah kamu akan ikut kelas online, beli buku, atau tanya teman yang berpengalaman.

Apa pun caranya, kamu perlu pertimbangkan efektivitas dari setiap metode pembelajaran. Kalau perlu bandingkan metode satu dengan metode lainnya. Biar investasimu (uang, waktu, tenaga, dan pikiran) nggak terbuang percuma.

Dari pengalaman saya sih, metode praktik memberi dampak paling besar. Karena di situ kamu nggak cuma nambah pengetahuan, tapi juga mengasah keterampilan yang penting banget. 

Lagi pula, knowledge without action is nothing, ya kan?

Action Plan
Last but not the least, kamu perlu menentukan ilmu dan keterampilan barumu itu mau kamu pakai untuk apa?

Ini yang biasanya saya sering kesulitan mengedukasi para user yang mengajukan permintaan training.

Seperti yang saya sampaikan di awal kalau training adalah sebuah investasi, maka si sponsor training (dalam hal ini, perusahaan) kan ya pengen tahu toh, apa yang akan mereka dapatkan dengan berinvestasi ke karyawan? 

Dan nggak perlu yang muluk-muluk, sesederhana mampu mengerjakan pekerjaan lebih cepat dan lebih akurat itu sudah cukup. Misalnya, sebelum training perlu waktu 30 menit untuk menyelesaikan pekerjaan. Maka setelah training seiring bertambahnya pengetahuan dan keterampilan, maka waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan tugas menjadi 15 menit, dengan kualitas yang sama.

Simpel bukan?

Dan ini perlu ditentukan di awal, supaya nanti saat proses training, kalau ngerasa materinya melenceng jauh (it happen sometimes) kita bisa segera intervensi, karena kita tahu, pulang training harus bisa A, B, C. 

Kesimpulan
Intinya, training is an investment. Jangan sampai udah buang uang, waktu, tenaga, dan pikiran...tapi pulang-pulang nggak bisa ngapa-ngapain karena yang dipelajari ndak sesuai.

Lho, tapi kan belajar apa pun itu nggak akan percuma.

Iya, tapi kan kamu punya goal yang mau kamu capai dan resource-mu terbatas lho. Jadi kenapa nggak bijak menyusun skala prioritas mempelajari hal-hal yang memang relevan dengan goal-mu.


[ADS] Bottom Ads

Mandira

Pages