Simple Prima

Si Peniru Ulung


Sejak beberapa bulan lalu, Fabio punya hobi baru yaitu bermain origami. Mulai dari membuat pesawat sederhana, hingga sekarang, aneka macam hewan dan dinosaurus.

Kemarin, Fabio mengajak saya bermain lipat-lipat, salah satu sebutannya untuk permainan origami.

Kali ini, dia mengajak saya membuat origami Dimetrodon.


Jujur aja, saya agak sangsi saya bisa bikin origami ini, karena ngelihat panduannya sepertinya ruwet banget. Tapi, Fabio yang lebih berpengalaman dari saya, bilang kalau nanti dia akan ajarin.

Singkat cerita, kami pun mulai membuat Dimetrodon.

Pada lipatan-lipatan awal, masih aman, saya masih bisa ngikutin. Lipatannya sederhana.

Mulai lipatan ke 7 kalau nggak salah, mulai deh keruwetannya. Fabio yang melihat saya kesulitan langsung tanpa tedeng aling-aling mengambil kertas origami saya dan membantu melipat.

Walau saya sudah bilang kalau, saya juga mau coba, eh lah kok dia malah marah...nggak marah sih, mungkin lebih tepatnya sinis.

Dan berlanjut ke tahap berikutnya, lagi-lagi dia 'ambil alih' origami saya. Jadi pada dasarnya dia bikin 2 origami, punya saya dan punya dia sendiri. 

Udah gitu ngambilnya maksa plus sinis pula. Persis gaya seseorang pas ngajarin anaknya sesuatu yang baru, nggak sabaran dan sinis.

Kurang lebih setengah jam kemudian, Dimetrodon kami pun selesai dibuat....yey. Walaupun lebih banyak dia yang bikin sih.
Dimetrodon kami

Lesson Learned

Anak-anak mungkin bukan pendengar yang baik, tapi mereka adalah peniru ulung

Dalam proses membuat Dimetrodon dan melihat cara Fabio ngajarin saya melipat itu, mengingatkan saya pada gaya bicara saya ketika ngajarin dia sesuatu.

Buru-buru, sinis, dan bernuansa ancaman yang sangat kental.

Cara yang, jujur aja, saya tiru dari gaya bicara dan perilaku atasan saya dalam pekerjaan. Cepat dan berorientasi hasil.

Well, dalam konteks pekerjaan, memang cara itu efektif mengingat targetnya maksimalis dalam waktu yang minimalis. 

Mboh piye carane atau yang secara internasional dikenal dengan istilah Whatever It Takes, menjadi slogan dalam menyelesaikan pekerjaan (untungnya nggak sampai dibuat yel-yel).

Namun, dalam konteks pengasuhan, this is simply doesn't work. Saya tahu itu, tapi gimana ya, kaya udah kebawa mode default-nya kaya gitu e.

Ini PR besar buat saya, karena ya tahu sendiri, namanya mengubah kebiasaan itu bukan perkara mudah. Namun, mau nggak mau ya harus berubah.

Bukan begitu?


[ADS] Bottom Ads

Mandira

Pages